SI Qur'an

Indikator 32: Pemakaian, Produksi, Rekayasa, Aplikasi

Ditemukan 6 rujukan ayat di dalam sistem.

QS. Al-Anfal (8): Ayat 42 Rujukan #1
إِذْ أَنتُم بِٱلْعُدْوَةِ ٱلدُّنْيَا وَهُم بِٱلْعُدْوَةِ ٱلْقُصْوَىٰ وَٱلرَّكْبُ أَسْفَلَ مِنكُمْ ۚ وَلَوْ تَوَاعَدتُّمْ لَٱخْتَلَفْتُمْ فِى ٱلْمِيعَٰدِ ۙ وَلَٰكِن لِّيَقْضِىَ ٱللَّهُ أَمْرًا كَانَ مَفْعُولًا لِّيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنۢ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَىٰ مَنْ حَىَّ عَنۢ بَيِّنَةٍ ۗ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَسَمِيعٌ عَلِيمٌ
iż antum bil-‘udwatid-dun-yā wa hum bil-‘udwatil-quṣwā war-rakbu asfala mingkum, walau tawā’attum lakhtalaftum fil-mī’ādi wa lākil liyaqḍiyallāhu amrang kāna maf’ụlal liyahlika man halaka ‘am bayyinatiw wa yaḥyā man ḥayya ‘am bayyinah, wa innallāha lasamī’un ‘alīm
"(Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan, yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,"

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Ayat berikutnya menginformasikan tentang faktor penting yang membuat perang badar yang sesungguhnya tidak seimbang itu benarbenar terjadi, yaitu ketika kalian, wahai orang-orang mukmin, berada di pinggir lembah yang dekat ke arah kota madinah, dan mereka, orangorang kafir, berada di pinggir lembah yang jauh dari kota madinah sedang kafilah itu yang dipimpin oleh abu sufya'n berada lebih rendah, yakni lebih dekat dari kalian, kira-kira 5 mil saja. Sekiranya kalian mengadakan persetujuan untuk menentukan hari pertempuran, niscaya kalian berbeda pendapat dalam menentukan-Nya karena jumlah kalian jauh lebih sedikit dibanding jumlah pasukan kafir, tetapi Allah berkehendak melaksanakan suatu urusan yang harus dilaksanakan atau mesti terjadi dalam kehidupan, yaitu meninggikan kalimat-Nya dengan memberi kemenangan dan kemuliaan kepada kaum muslim serta kehancuran dan kehinaan bagi orang-orang kafir. Demikian ini, agar orang yang binasa atau terbunuh dalam peperangan itu binasa dengan bukti yang nyata, yakni melihat dan mengalami sendiri akibat kedurhakaannya dan agar orang yang hidup atau selamat dari pertempuran itu hidup dengan bukti yang nyata juga, yaitu dengan melihat bukti kekuasaan Allah. Sungguh, Allah maha mendengar permohonan orang-orang beriman agar diberi kemenangan pada perang yang sangat menentukan tersebut, maha mengetahui keadaan mereka bahwa mereka memang berhak atas pertolongan itulebih lanjut dijelaskan dengan rinci terjadinya perang badar yang tidak seimbang tersebut. Ingatlah wahai nabi Muhammad, ketika Allah memperlihatkan jumlah mereka, pasukan kafir, di dalam mimpimu berjumlah sedikit, lalu engkau menyampaikan kepada sahabat-sahabatmu sehingga mereka kuat mentalnya dan lebih berani. Sebab, sekiranya Allah memperlihatkan mereka berjumlah banyak, tentu kalian, wahai orangorang mukmin, menjadi gentar dan tentu kalian akan berbantah-bantahan dalam urusan itu menyangkut keterlibatan mereka pada perang badar tersebut, tetapi Allah telah menyelamatkan kamu dengan cara menunjukkan jumlah mereka terlihat sedikit dan lemah melalui mimpi nabi. Sungguh, Allah maha mengetahui apa yang ada dalam hatimu, termasuk rasa berani dan gentar dalam menghadapi peperangan.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Allah SWT memberitahukan tentang hari Furqan: ((Yaitu di hari) ketika kalian berada di pinggir lembah yang dekat ) yaitu ketika kalian menempati pinggir lembah yang dekat dengan Madinah. (Dan mereka) yaitu orang-orang musyrik menempati (di pinggir lembah yang jauh) yaitu jauh dari Madinah di arah Mekah (sedangkan kafilah itu) yaitu kafilah yang dipimpin oleh Abu Sufyan beserta orang yang bersamanya membawa barang dagangan (berada di bawah kalian) yaitu (di bagian yang lebih rendah daripada kalian) yaitu dekat dengan tepi pantai (Seandainya kalian mengadakan persetujuan) yaitu kalian dan orang-orang musyrik tentang medan perang (pastilah kalian tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu) Firman Allah: (Yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata) Muhammad bin Ishaq berkata yaitu agar orang yang kafir itu kafir setelah adanya hujjah nyata ketika melihat ayat tanda dan pelajaran, dan agar orang yang beriman itu beriman dengan hal itu juga. Ini adalah penafsiran yang baik, penjelasan panjangnya adalah sesungguhnya Allah berfirman,”Sesungguhnya pertemuan kalian dengan musuh kalian di satu tempat tanpa perjanjian, agar Allah menolong kalian atas mereka dan meninggikan kalimat kebenaran atas kebathilan, agar perkara itu jelas, hujjah dan buktinya terlihat pasti, sehingga tidak ada lagi alasan dan keraguan bagi seseorang. Saat itu binasalah orang yang binasa, yaitu orang yang melanjutkan kekufurannya akan terus melanjutkan hal itu dengan sadar atas jalan yang dia tempuh, dia bathil karena hujjah itu telah ditunjukkan kepadanya (dan agar orang yang hidup itu hidupnya) yaitu orang yang telah beriman akan tetap beriman (Dengan keterangan yang nyata) hujah dan pengetahuan. Keimanan adalah kehidupan untuk hati. Allah SWT berfirman: (Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, dan dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia) (Surah Al-An'am: 122) Aisyah berkata tentang kisah tuduhan palsu.”Maka binasalah orang yang binasa karena menuduhku" yaitu dia berkata tentangnya dengan perkataan yang penuh kedustaan dan kebohongan. Firman Allah: (Sesungguhnya Allah Maha Mendengar) yaitu doa, ketundukan, dan permohonan kalian kepadaNya (lagi Maha Mengetahui) kalian, bahwa kalian berhak mendapat kemenangan atas musuh-musuh kalian yang kafir dan membangkang.

Tafsir As-Sa'di
Buka

42. “(Yaitu di hari) ketika kamu berda di pinggir lembah yang dekat.” Yakni di pinggir lembah yang dekat Madinah. Satu lembah yang talah mengumpulkan kamu dengan mereka “sedang kafilah” yang kamu incar itu bukanlah yang diinginkan oleh Allah “berada di bawah kamu,” melewati pinggir laut . “sekiranya kamu mengadakan persetujuan untuk menentukan hari pertempuran”, dengan mereka sesuatu dengan kondisi dan keadaan tersebut “pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu.” Yakni pasti ada maju mundurnya atau pemilihan tempat dan lain-lain sebagiannya yang memalingkanmu atau mereka dari perjanjian. Akan tetapi Allah-lah yang mengumpulkanmu dengan mereka dalam kondisi tersebut. “Agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan,” yang telah di takdirkan sejak azali yang mesti terjadi. “YAitu agar orang yang binasa itu binasa dengan keterangan yang nyata.” Yakni supaya ia menjadi hujjah dan bukti bagi penentang, sehingga ketika dia memilih kekufuran yang dasar ilmu dan keyakinan terhadap kebathilannya, maka tidak ada lagi alasan dihadapan Allah. “Dan agar orang yang hidup itu hidup dengan keterangan yang nyata pula.” Yakni bashirah dan keyakinan orang Mukmin bertambah dengan bukti-bukti kebenaran yang di tunjukan oleh Allah kepada Dua kelompok yang cukup sebagi peringatan bagi orang-orang yang berakal. “Sesungguhnya Allah Maha mendengar Lagi Maha Mengetahui,” Maha Mendengar segala suara dan bahasa yang beraneka ragam dan keperluan yang bermacam-macam, Maha Mengetahui yang lahir, batin, yang rahasia, yang ghaib, dan yang Nampak.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

42 Ingatlah suatu hari pembedaan, yaitu ketika kamu berada di pinggir lembah bagian bawah yang dekat dengan Madinah. Adapun mereka musuh kalian berada di pinggir lembah di balik tempat kalian berada yang jauh Madinah, sedangkan kafilah Abu Sufyan itu berada di bawah tempat yang kalian pijaki yaitu pesisir laut.. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan untuk menentukan hari pertempuran dengan tentara Qurasy saat itu juga. Namun kalian ditakdirkan belum melakukan perjanjian untuk perang saat itu juga, pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu. Akan tetapi Allah mempertemukan dua pasukan itu tanpa suatu perjanjian agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan, yaitu untuk menolong orang-orang mukmin dan membinasakan orang kafir. Allah mentakdirkan itu untuk melenyapkan orang kafir setelah mereka ditunjukkan bukti yang nyata, serta untuk membuat orang-orang yang sudah beriman semakin beriman dengan adanya bukti yang nyata yang belum pernah ada contohnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar perkataan kalian lagi Maha Mengetahui kondisi kalian. Makna dari kebinasaan pada ayat ini adalah untuk orang kafir sebab kekufuran adalah sebab diturunkannya kebinasaan. Makna dari kehidupan adalah keimanan, karena iman adalah sebab kehidupan dan kekufuran adalah kematian

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

dan ingatlah oleh kalian ketika kalian berada di sisi lembah yang lebih dekat dengan Madinah, sedang musuh kalian menempati bagian lembah yang jauh, sementara kafilah dagang berada di bawah kalian menuju tepi pantai laut merah. Kalau saja kalian telah menetapkan waktu untuk berhadapan (untuk peperangan ini) pastilah kalian akan menyalahi perjanjian. Akan tetapi, Allah mengumpulkan kalian tanpa ada kesepakatan sebelumnya, supaya Allah merealisasikan ketetapan perkara yang mesti terlaksana, guna menolong para pembelaNya, dan menghinakan musuh-musuhNya dengan menjadi korban dan tawanan. Dan yang demikian itu, agar menjadi binasa orang yang binasa dari mereka dengan hujjah Allah yang telah tegak jelas baginya lalu ia melihatnya lansung dan memutus udzur baginya. Dan agar hidup orang yang hidup dengan hujjah Allah yang telah datang dengan kuat dan tampak jelas baginya, dan sesungguhnya Allah Maha mendengar ucapan-ucapan dua belah pihak, tidak ada yang samar sesuatupun bagiNya, dan Dia Maha mengetahui dari niat-niat mereka dan perbuatan-perbuatan mereka.

Tafsir Al-Madinah
Buka

42. Para musuh yang bersenjata berada di arah depan pada lembah yang jauh dari kota Madinah, sedangkan kafilah dagang Abu Sufyan berada di tepi pantai laut merah. Seandainya kalian saling berjanji dengan mereka untuk berperang niscaya kalian akan mengingkari janji itu, karena kalian takut berperang disebabkan jumlah kalian yang sedikit, dan karena tujuan kebanyakan kalian adalah untuk menghadang kafilah dagang tanpa peperangan. Akan tetapi kalian bertemu dengan pasukan itu tanpa ada janji sebelumnya atau keinginan untuk berperang, agar Allah menetapkan urusan yang telah ada dalam ilmu dan hikmah-Nya bahwa itu akan terjadi; yaitu urusan terjadinya peperangan yang menghinakan mereka, memberi kemenangan kepada kalian, membenarkan janji Allah kepada rasul-Nya, dan memenangkan agama-Nya diatas seluruh agama lainnya meskipun orang-orang musyrik itu tidak menyukai kemenangan tersebut. Perkara ini juga agar Allah membinasakan orang-orang kafir setelah keterangan yang jelas diberikan kepada mereka, dan agar orang-orang beriman hidup di atas keterangan dan bukti yang telah mereka saksikan, sehingga semakin menambah keimanan dengan semangat mereka dalam beramal. Allah Maha Mendengar doa orang-orang beriman yang meminta pertolongan, dan Maha Mendengar perbincangan yang terjadi di antara mereka dalam urusan kepergian menuju Perang Badar. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang terbesit dalam pikiran mereka, dan Maha Mengetahui yang terbaik bagi mereka untuk saat ini dan masa depan.

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

42. Dan ingatlah ketika kalian berada di sisi lembah yang dekat dengan Madinah, dan orang-orang kafir berada di sisi lembah yang jauh ke arah Makkah. Sedangkan kafilah dagang berada di tempat yang lebih rendah dari kalian ke arah pantai laut Merah. Seandainya kalian dan orang-orang musyrik sengaja membuat janji untuk bertemu di Badar, tentu kalian akan berselisih paham satu sama lain. Akan tetapi Allah -Subḥānahu- mempertemukan kalian di Badar tanpa ada perjanjian sebelumnya, agar Allah dapat menuntaskan apa yang hendak dilakukan-Nya, yaitu memenangkan orang-orang mukmin dan mengalahkan orang-orang kafir, memuliakan agama-Nya dan menghinakan kemusyrikan. Hal itu supaya orang yang harus binasa segera binasa setelah disampaikan hujjah kepadanya dengan kemenangan orang-orang mukmin, kendati jumlah pasukan dan peralatan perang mereka sangat minim; dan supaya orang yang pantas hidup dapat menjalani hidupnya berdasarkan bukti dan hujjah yang diperlihatkan oleh Allah kepadanya. Maka tidak ada lagi orang yang dapat mengajukan hujjah di hadapan Allah. Dan Allah Maha Mendengar ucapan semua makhluk-Nya lagi Maha Mengetahui perbuatan mereka. Tidak ada sesuatupun yang luput dari pengetahuan-Nya. Dan Dia akan memberikan balasan yang setimpal kepada mereka berdasarkan amal masing-masing.

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

42. (ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat) Yakni sisi lembah yang dekat dengan kota Madinah, sedangkan musuh kalian berada di sisi yang jauh yang berada di sebelah arah Makkah. (sedang kafilah itu berada di bawah kamu) Yang dimaksud adalah kafilah yang dipimpin oleh Abu Sufyan. Ketika itu mereka berada di bawah mereka, di sisi pantai. Dan Allah mengaruniai kaum muslimin dengan kemenangan atas mereka, padahal keadaan ketika itu sedemikian rupa. ( Sekiranya kamu mengadakan persetujuan pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu) Yakni seandainya kalian mengadakan persetujuan dengan orang-orang musyrik untuk menentukan tempat diadakannya pertempuran niscaya kalian akan saling berselisih, sehingga sebagian kecil dari kalian dan sebagian besar dari mereka akan mengendorkan tekat untuk memenuhi persetujuan tersebut. Dan akan melemahkan wibawa Rasulullah di hati orang-orang musyrik. (akan tetapi) Akan tetapi Allah mengumpulkan kalian semuanya di tempat ini. (agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan) Yaitu memenangkan para kekasih-Nya dan menghinakan para musuh-Nya. Memuliakan agama-Nya dan menghinakan kekafiran. Dan hal ini belum terprediksi oleh kedua pasukan bahwa kesepakatan akan menjadi seperti ini. (yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya) Yakni agar gugur orang yang telah ditetapkan untuk gugur dengan hujjah yang telah ditegakkan dan agar selamat orang yang telah ditetapkan untuk selamat. ( dengan keterangan yang nyata (pula)) Agar tidak ada lagi orang yang memiliki alasan di hadapan Allah. Pendapat lain mengatakan yakni agar kekafiran orang kafir itu tanpa ada syubhat dan keislaman orang islam itu tanpa ada syubhat; karena syubhat itu telah hilang dengan kemenangan orang-orang beriman dan dengan terlihatnya hasil dari furqaan (pembedaan antara iman dan kafir). Karena apabila seseorang meninggal setelah ini kemudian ia layak mendapatkan azab karena terus-menerus dalam kekafiran, kematiannya dalam keadaan ini tidak dalam keadaan syubhat, akan tetapi ia di azab karena ia terus menerus berada dalam kesesatan padahal ia mengetahui. Begitu pula tidak ada syubhat sedikitpun bahwa orang-orang yang beriman berada dalam kebenaran dan telah jelas bahwa agama Allah adalah agama yang Berjaya dan para pemeluknya adalah orang-orang yang menang.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

Ketika kalian berada di pinggir lembah yang dekat} di pinggir lebah yang dekat dengan Madinah {dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh} di pinggir lembah yang jauh dari Madinah {sedangkan kafilah itu} kafilah Abu Sufyan {berada lebih rendah daripada kalian} di tempat yang leboh rendah daripada posisi kalian, yaitu di tepi pantai. {Seandainya kalian mengadakan perjanjian, niscaya kalian berbeda pendapat dalam menentukan hari pertempuran itu, tetapi supaya Allah melaksanakankan suatu urusan yang harus terjadi, yaitu agar orang yang binasa itu binasa} supaya orang yang akan mati itu mati {dengan bukti yang nyata} dalil yang menjelaskannya {dan agar orang yang hidup itu hidup} orang yang bertahan hidup itu hidup {dengan bukti yang nyata. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Surat Al-Anfal ayat 42: Maksudnya kaum muslimin ketika itu berada di pinggir lembah yang dekat ke Madinah, dan orang-orang kafir berada di pinggir lembah yang jauh dari Madinah. Sedangkan kafilah yang dipimpin oleh Abu Sofyan itu berada di tepi pantai kira-kira 5 mil dari Badar. Dengan mereka (kaum kafir Quraisy). Maksudnya kemenangan kaum muslimin dan kehancuran kaum musyrikin, dan dikumpulkan-Nya mereka tanpa ada persetujuan waktunya terlebih dahulu merupakan ketentuan Allah yang mesti terjadi. Maksudnya agar orang-orang yang tetap di dalam kekafirannya tidak mempunyai alasan lagi di hadapan Allah untuk tetap dalam kekafiran itu karena telah tegak hujjah dan bukti yang nyata (seperti bisa menangnya kaum muslimin terhadap musuh mereka yang berjumlah banyak padahal jumlah mereka hanya sedikit), dan orang-orang yang beriman bertambah lagi keimanannya karena Allah telah menampakkan bukti-bukti yang nyata yang menunjukkan kebenaran mereka, di mana di dalamnya terdapat peringatan bagi orang-orang yang berakal. Allah Maha Mendengar semua suara dengan berbagai macam bahasa dan berbagai macam kebutuhan, Dia mengetahui pula yang nampak maupun yang tersembunyi dan semua rahasia, serta mengetahui yang ghaib maupun yang kelihatan.

Tafsir An-Nafahat
Buka

QS. Al-Anfal (8): Ayat 44 Rujukan #2
وَإِذْ يُرِيكُمُوهُمْ إِذِ ٱلْتَقَيْتُمْ فِىٓ أَعْيُنِكُمْ قَلِيلًا وَيُقَلِّلُكُمْ فِىٓ أَعْيُنِهِمْ لِيَقْضِىَ ٱللَّهُ أَمْرًا كَانَ مَفْعُولًا ۗ وَإِلَى ٱللَّهِ تُرْجَعُ ٱلْأُمُورُ
wa iż yurīkumụhum iżiltaqaitum fī a’yunikum qalīlaw wa yuqallilukum fī a’yunihim liyaqḍiyallāhu amrang kāna maf’ụlā, wa ilallāhi turja’ul-umụr
"Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan matamu dan kamu ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. Dan hanyalah kepada Allahlah dikembalikan segala urusan."

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Setelah menjelaskan apa yang dilihat oleh nabi dalam mimpi, maka pada ayat ini dijelaskan apa yang dilihat kaum muslim dengan mata kepala sendiri di medan perang. Ingatlah ketika Allah memperlihatkan mereka, orang-orang kafir, kepada kalian ketika kalian berjumpa dengan mereka seakan-akan berjumlah sedikit menurut penglihatan mata kalian di medan perang; dan kalian, wahai orang-orang mukmin, diperlihatkannya seakan-akan berjumlah sedikit menurut penglihatan mereka sebelum bertemu di medan pertempuran. Demikian itu karena Allah berkehendak melaksanakan suatu urusan yang harus dilaksanakan. Hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan, sehingga tidak ada satu pun yang terlepas dari kehendak-Nya. Peristiwa perang badar seharusnya menguatkan mental dan keyakinan setiap orang mukmin bahwa Allah pasti menolong hamba-Nya yang memiliki keimanan yang benar, meski pertolongan itu datang dengan cara yang unik dan tidak masuk akalusai memaparkan kenikmatan yang Allah karuniakan kepada umat islam pada perang badar, seperti kemenangan dan ganimah, pada ayat ini Allah mengajarkan apa yang seharusnya dilakukan seorang mukmin saat menghadapi musuh. Wahai orang-orang yang beriman! apabila kamu bertemu pasukan musuh, maka berteguh hatilah dengan tetap menunjukkan keberanian setelah melakukan persiapan yang matang dan janganlah gentar apalagi melemah dalam membela kebenaran, dan sebutlah nama Allah banyak-banyak, yakni berzikir dan berdoalah semoga Allah memberikan kemenangan agar kamu beruntung.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 43-44 Mujahid berkata,”Allah memperlihatkan kepada beliau dalam mimpinya sedikit, lalu Nabi SAW memberitahukan hal itu kepada para sahabat beliau tentang hal itu. Hal tersebut untuk meneguhkan mereka. Demikian juga dikatakan Ibnu Ishaq dan lainnya. Firman Allah SWT: (Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak, tentu saja kamu menjadi gentar) yaitu sungguh kalian akan menjadi pengecut menghadapi mereka, dan kalian berbeda pendapat di antara kalian (tetapi Allah telah menyelamatkan (kalian)) yaitu dari hal itu dengan memperlihatkan mereka kepada kalian dalam keadaan sedikit (Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati) terhadap sesuatu yang tersimpan di dalam hati dan semua yang tersembunyi di dalam hati (Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati (19)) (Surah Ghafir) Firman Allah: (Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan matamu) Hal ini juga termasuk kelembutan Allah SWT kepada mereka, ketika Dia memperlihatkan musuh mereka di mata mereka dalam keadaan sedikit, sehingga Dia membuat mereka berani dan melawan mereka. Firman Allah: (dan kalian ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mereka) Ikrimah berkata tentang firmanNya: (Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu ketika kamu sekalian berjumpa dengan mereka). dia berkata, Dia mendorong sebagian dari mereka untuk memerangi sebagian lainnya. Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yahya ibnu Abbad ibnu Abdullah ibnuz Zubair, dari ayahnya sehubungan dengan makna firman-Nya: karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan (Al Anfal : 44) Yakni agar Allah menimpakan peperangan di antara mereka guna membalas terhadap orang-orang yang hendak ditimpakan pembalasan azab kepadanya, dan guna melimpahkan nikmat kepada orang-orang yang Dia kehendaki beroleh nikmat-Nya dari kalangan orang-orang yang berhak menerimanya. Firman Allah (karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan) Maknanya adalah Allah membujuk masing-masing dari kedua pihak untuk berperang, dan Dia menjadikan terlihat sedikit pihak lain untuk mendorongnya berperang dan hal itu saat keduanya berhadapan. Ketika pertempuran berkecamuk, Allah membantu orang-orang mukmin dengan seribu malaikat yang datang bergantian. Lalu orang-orang kafir melihat pasukan mukmin seakan-akan dua kali lipat daripada mereka. Sebagaimana Allah berfirman: (Sesungguhnya telah ada tanda bagi kalian pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir, yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan hati (13)) (Surah Ali Imran) Demikianlah pengertian penggambungan antara kedua ayat itu, masing-masing keduanya benar dan dipercaya. Segala puji bagi Allah

Tafsir As-Sa'di
Buka

43-44. Allah memperlihatkan ke dalam mimpi Rasululoh, bahwa orang-orang musyrik berjumlah sedikit, kemudian Rasululoh memberitahukan berita gembira itu kepada sahabat-sahabatnya, maka hati mereka pun menjadi tenang dan teguh. “Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepadamu (berjumlah) banyak.” Lalau kamu menyampaikan berita itu kepada sahabat-sahabatmu, “tentu saja mereka menjadi gentar tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu.” Di antara kamu ada yang berpendapat meneruskan perang, ada pula yang tidak berpendapat demikian, dan percekcokan adalah kekalahan. “Akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu.” Yakni melindungimu. “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segela isi hati.” Yakni keteguhan, kekhawatiran, kejujuran, keteguhan, dan kedustaan yang ada padanya. Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatimu yang membuatnya mengasihiMu, berlaku baik kepadamu, dan mebuktikan mimpi RasulNya. Allah menampakan kepada orang-orang Mukmin seakan-akan musuh-musuh mereka berjumlah sedikit. Masing-masing pasukan melihat musuhnya sedikit, agar masing-masing pasukan menyerang yang lain. “Karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan.” Yakni, memberi kemenangan kepada kaum Muminin dan menimpakan kekalahan kepada orang kafir, serta membinasakan para pemimpin dan pembesar kekafiran mereka, sehingga tidak seorangpun dari mereka yang bisa di banggakan, sehingga setelah itu mereka mudah di ajak masuk islam, ia juga menjadi bukti kelembutan bagi yang lain yang Allah beri nikmat Islam. “Dan hanya kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan.” Yakni, segala urusan makhluk kembali kepada Allah, maka Dia membedakan yang baik dan yang buruk, dan memutuskan urusan makhluk dengan adil tanpa sedikitpun kezhaliman.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

44 Dan ingatlah wahai orang-orang mukmin ketika Allah menampakkan kepada kamu sekalian bahwa jumlah mereka hanya tujuh puluh atau seratus agar kalian tidak takut terlebih dahulu kepada mereka. Dia juga yang menjadikan jumlah kalian kurang dari 300 orang di mata orang-orang musyrik agar mereka tidak melakukan banyak persiapan untuk memerangi kalian dan setiap kelompok berani untuk berperang. Karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. Dan hanyalah kepada Allahlah dikembalikan segala urusan. Setiap orang akan diberi balasan atas segala amalnya. Ini semua adalah terjadi sebelum peperangan. Adapun setelah peperangan sesungguhnya Allah memperlihatkan kepada musuh bahwa jumlah tentara muslim sebanyak jumlah mereka agar mereka terperingatkan sebagaimana dalam surat Ali Imran 13

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

Dan ingatlah juga ketika musuh sudah muncul ke medan perangan, lalu kalian melihat mereka berjumlah sedikit, sehingga kalian pun berani melawan mereka. Dan Allah menampakan kalian berjumlah sedikit pada pandangan mata mereka, supaya mereka meremehkan persiapan untuk memerangi kalian, karena Allah hendak menetapkan satu perkara yang harus terlaksana, lalu terwujudlah janji Allah bagi kalian dengan datangnya pertolongan dan kemenangan. Kemudian kalimat Allah menjadi paling tinggi dan slogan orang-orang kafir menjadi yang paling rendah. Dan kepada Allah semua urusan kembali, lalu Dia memberikan balasan bagi masing-masing orang dengan apa yang berhak di terimanya.

Tafsir Al-Madinah
Buka

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

44. Dan ingatlah -wahai orang-orang mukmin- ketika Allah memperlihatkan kepada kalian bahwa orang-orang musyrik yang kalian hadapi itu hanya sedikit, sehingga kalian berani maju melawan mereka. Dan Allah juga membuat kalian tampak sedikit di mata mereka sehingga mereka pun maju untuk melawan kalian dan tidak berpikir untuk mundur. Hal itu karena Allah hendak menuntaskan sesuatu yang hendak dilakukan-Nya. Yaitu menghukum orang-orang musyrik dengan membunuh sebagian dari mereka dan menjadikan sebagian lainnya sebagai tawanan perang. Dan menganugerahi orang-orang mukmin dengan pertolongan dan kemenangan atas musuh-musuh mereka. Hanya kepada Allah segala urusan akan dikembalikan. Kemudian Dia akan membalas orang yang jahat dengan balasan yang setimpal dengan kejahatannya, dan membalas orang yang baik atas kebaikannya.

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

44. (Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan matamu) Allah menampakkan bagi kedua pasukan bahwa jumlah mereka sedikit di pandangan musuhnya masing-masing, sebagai penegas apa yang dilihat Rasulullah dalam mimpinya; sebagaimana dalam ayat lain disebutkan: “mereka melihat diri mereka dengan mata kepala mereka seakan-akan dua kali lebih banyak dari musuhnya” (ali-Imran: 13) Hal ini agar kedua pasukan tertipu dengan kelemahan musuhnya masing-masing. Sehingga seseorang dari kaum muslimin berkata pada temannya: apakah kamu mengira jumlah mereka tujuh puluh orang? Lalu temannya menjawab: mereka sekitar seratus orang. Dan Allah menampakkan kaum muslimin berjumlah sedikit pada pandangan kaum musyrikin sehingga seseorang dari mereka berkata: mereka hanyalah hal ini terjadi sebelum perang dimulai, adapun setelah mereka memulai perang Allah menampakkan kaum muslimin terlihat lebih banyak pada pandangan kaum musyrikin. (karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan) Yakni menjadikan perang ini sebagai siksaan bagi kaum yang hendak Allah siksa dan sebagai karunia bagi kaum yang hendak Allah beri karunia.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

Inilah diantara keindahan seuatu yang diciptakan Allah ta'ala, Dia menjadikan untuk satu hal dua jejak yang berbeda, kebingungan kaum muslimin atas sedikitnya jumlah kaum musyrikin yang nampak dihadapan mereka menjadikan mereka lebih kuat untuk menghancurkan benteng pertahanan kaum musyrikin, dan hilangnya rasa takut kepada musuh mereka, sebagaimana kaum musyrikin melihat jumlah umat islam yang sedikit justru itu menjadi sebab tumbangnya kekuatan mereka, mereka menyangka akan menang diatas umat islam dengan serangan yang tidak besar, akan tetapi perkiraan mereka itu salah dan tumbang ditangan kaum muslimin.

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

Ingatlah ketika Dia memperlihatkan mereka kepada kalian, ketika kalian berjumpa dengan mereka dalam penglihatan mata kalian itu berjumlah sedikit dan Dia memperlihatkan kalian berjumlah sedikit dalam penglihatan mereka supaya Allah melaksanakan suatu urusan yang harus terjadi. Hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Surat Al-Anfal ayat 44: Sekitar 70 atau 100 orang, padahal sesungguhnya jumlah mereka 1.000 orang lebih. Abdulah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata, “Sungguh, mereka dijadikan sedikit dalam penglihatan kami pada perang Badar, sampai aku bertanya kepada seorang yang berada di sebelahku, “Apakah kamu melihat bahwa jumlah mereka 70 orang?” Ia menjawab, “Tidak, bahkan 100 orang.” Sampai kami menangkap salah seorang di antara mereka dan bertanya kepadanya (tentang jumlah mereka), ia menjawab, “Jumlah kami 1.000 orang.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir). Agar mereka tetap maju dan tidak mundur. Hal ini sebelum berkecamuknya peperangan, namun setelah berkecamuk maka ditampakkan-Nya kaum muslimin berjumlah dua kali lipat dari mereka sebagaimana disebutkan dalam surat Ali Imran ayat 13. Seperti menolong orang-orang mukmin dan mengecewakan orang-orang kafir, mematikan para tokoh dan pemimpin kesesatan sehingga pengikutnya mudah diajak kepada Islam, sekaligus sebagai kelembutan-Nya kepada orang-orang yang masih hidup. Semua urusan makhluk dikembalikan kepada Allah, kemudian Dia memisahkan yang baik dengan yang buruk dan menghukumi makhluk-makhluk-Nya dengan keputusan-Nya yang adil.

Tafsir An-Nafahat
Buka

QS. Al-Anfal (8): Ayat 73 Rujukan #3
وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌ فِى ٱلْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ
wallażīna kafarụ ba’ḍuhum auliyā`u ba’ḍ, illā taf’alụhu takun fitnatun fil-arḍi wa fasādung kabīr
"Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar."

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung sebagian yang lain, yakni satu sama lain tolong-menolong dalam kebatilan dan bersekongkol untuk memusuhi kalian. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah untuk saling melindungi dan bahu-membahu dalam membela serta meninggikan agama Allah, pada satu sisi, dan tidak melakukan hubungan yang intensif dengan orang-orang kafir yang memusuhi kalian, pada sisi lain, niscaya akan terjadi kekacauan yang dahsyat di bumi dan kerusakan yang besar antara lain bocornya rahasia dan tercerai-berainya barisan kaum muslimin. ' ayat sebelumnya menyinggung tentang kaum muhajirin dan ansar, sedang ayat ini menjelaskan kedudukan mereka, yaitu bahwa orangorang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, yakni kaum muhajirin, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan kepada orang muhajirin demi tegaknya kebenaran dan agama Allah, yakni kaum ansar, maka mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia berupa anugerah yang bermacam-macam baik di dunia maupun di akhirat.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ketika Allah SWT menyebutkan bahwa orang-orang mukmin itu sebagian di antara mereka adalah pelindung bagi sebagian lain, Allah memutuskan hubungan antara mereka dengan orang-orang kafir, sebagaimana yang dikatakan oleh Usamah dari Nabi SAW yang bersabda: ”Tidak boleh saling mewaris di antara dua pemeluk agama yang berbeda, dan orang muslim tidak boleh mewarisi orang kafir, dan tidak pula orang kafir terhadap orang muslim. Kemudian beliau membaca (Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kalian (hai para muslim) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar (73)). Makna firman Allah SWT: (Jika kalian (hai para muslim) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar) yaitu jika kalian tidak menjauhi orang-orang musyrik dan tidak melindungi orang-orang mukmin, maka terjadi fitnah di kalangan manusia, yaitu hal yang samar dan bercampur antara orang-orang mukmin dan orang-orang kafir. dan terjadi kekacauan dan kerusakan yang menyebar luas di antara orang-orang.

Tafsir As-Sa'di
Buka

73. Manakala Allah menyatakan akad muwalah di antara orang-orang Mukmin, Dia menyatakan bahwa orang-orang kafir yang dihimpun oleh kekufuran, sebagian dari mereka adalah wali bagi sebagian yang lain, maka tidak ada yang mengangkat mereka menjadi wali kecuali orang-orang kafir yang sama dengan mereka. FirmanNYa , “Jika kamu (hai kaum Muslimin) tidak melaksanakan,” yakni berwala’ (bersikap loyal) kepada orang-orang Mukmin dan berbara’ (anti dan berlepas diri) dari orang-orang kafir, di mana kamu berwala’ kepada mereka semua atau berbara’ dari mereka semua, atau kamu berwala’ kepada orang-orang kafir dan berbara’ dari orang-orang Mukmin, “niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” Hal itu menimbulkan dampak negative yang tak berbatas: bercampurnya kebenaran dengan kebatilan, Mukmin dengan kafir, lenyapnya banyak ibadah besar seperti jihad, hijrah, dan tujuan-tujuan syariat yang lain yang bisa lenyap jika orang-orang Mukmin tidak mengangkat orang-orang Mukmin sebagai wali.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

73 Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Maka mereka tidak akan menolong orang mukmin. Jika kamu hai para muslimin tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kelemahan Islam serta kerusakan yang besar pada agama dan dunia. Seorang laki-laki berkata: Akankah kami mewariskan peranakan kami kepada kaum musyrik? Maka turunlah ayat ini

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

Dan orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pembela sebagian yang lain. Dan kalian wahai kaum mukminin, bila tidak menjadi pembela bagi sebagian yang lain, niscaya munculah di muka bumi fitnah bagi kaum mukminin yang menjauhkan mereka dari agama Allah dan timbul kerusakan yang merajarela dengan adanya hambatan menuju jalan Allah dan menguatkan tiang-tiang penyangga kekafiran.

Tafsir Al-Madinah
Buka

73. Setelah menetapkan kewajiban saling tolong-menolong antara orang-orang beriman, Allah menyampaikan bahwa orang-orang kafir juga saling tolong-menolong karena mereka sama-sama dalam kekafiran; mereka adalah satu golongan dalam melawan orang-orang beriman meskipun sesungguhnya mereka terpecah belah dan saling memusuhi. Maka jika kalian tidak menjalankan kewajiban saling tolong menolong dalam menghadapi orang-orang kafir yang saling tolong menolong dalam memerangi kalian, serta menjalankan kewajiban untuk memenuhi perjanjian dengan orang-orang kafir sampai perjanjian itu selesai; maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi yang mengandung mudharat yang sangat besar bagi kalian akibat kelemahan kalian, yang mengakibatkan kekalahan dalam menghadapi musuh-musuh, dan hilangnya penegakan syariat yang hanya dapat ditegakkan dengan saling tolong-menolong.

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

73. Sedangkan orang-orang yang ingkar kepada Allah, yang mereka dipersatukan oleh kekafiran mereka sehingga satu sama lain saling melindungi. Maka jangan sekali-kali orang mukmin menjadikan mereka sebagai walinya. Jika kalian tidak mau menjadikan orang-orang mukmin sebagai wali kalian dan menjadikan orang-orang kafir sebagai musuh, niscaya akan terjadi fitnah (malapetaka) bagi orang-orang mukmin. Karena mereka tidak menemukan saudara seagama yang mau menolong mereka. Dan akan terjadi kerusakan besar di muka bumi karena maraknya upaya menghalang-halangi manusia dari jalan Allah.

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

73. (apun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain) Ayat ini mengandung dorongan bagi kaum muslimin agar tidak menjadi penolong dan pelindung orang-orang kafir. (Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu) Yakni tidak melaksanakan tolong menolong dan saling melindungi orang-orang beriman sesuai dengan penjelasan yang telah disebutkan tadi, serta tidak meninggalkan untuk tidak menjadi penolong dan pelindung orang-orang kafir. (niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar) Yakni kerusakan besar di dunia dan di akhirat.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

Orang-orang kafir itu, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Jika kalian tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu} jika kalian tidak mendukung orang-orang mukmin dan tidak memusuhi orang-orang kafir {niscaya akan terjadi bencana} bencana bagi orang-orang mukmin {di bumi dan kerusakan yang besar} kerusakan yang sangat luas dalam urusan agama dan di dunia

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Surat Al-Anfal ayat 73: Ada yang menafsirkan, “saling melindungi” di sini dengan saling tolong-menolong dan mewarisi, oleh karena itu tidak ada waris-mewarisi antara kamu dengan mereka (orang-orang kafir). Yang dimaksud dengan apa yang telah diperintahkan Allah itu adalah keharusan adanya persaudaraan yang teguh antara kaum muslimin, berwala’ (mencintai) dengan mereka, saling tolong-menolong, dan berbara’ (berlepas diri) terhadap orang-orang kafir. Dengan menguatnya kekafiran dan kemaksiatan serta melemahnya Islam dan ketaatan.

Tafsir An-Nafahat
Buka

QS. Al-Kahfi (18): Ayat 23 Rujukan #4
وَلَا تَقُولَنَّ لِشَا۟ىْءٍ إِنِّى فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا
wa lā taqụlanna lisyai`in innī fā’ilun żālika gadā
"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi,"

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Beberapa orang quraisy bertanya kepada nabi tentang roh, kisah penghuni gua dan kisah zulkarnain. Nabi Muhammad menyuruh mereka datang besok pagi dan beliau menjanjikan akan menceritakan kepada meraka peristiwa ini. Allah memberi pelajaran dalam ayat ini, dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, yakni menjanjikan akan memberikan jawaban terhadap pertanyaan atau melakukan sesuatu dengan berkata aku pasti melakukan itu besok pagi, kecuali engkau janjikan hal itu dengan mengatakan insya Allah, yakni jika dikehendaki Allah. Dan ingatlah kepada tuhanmu apabila engkau lupa mengaitkan janjimu dengan kehendak Allah, begitu engkau ingat, kaitkanlah janjimu itu dengan mengatakan insya Allah dan katakanlah wahai nabi Muhammad, mudah-Mudahan tuhanku akan memberiku petunjuk kepadaku untuk menjelaskan sesuatu kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini, yakni dari kisah penghuni gua dalam memberi petunjuk kepada kenabianku.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 23-24 Allah SWT memberi petunjuk kepada RasulNya SAW tentang adab dalam mengerjakan sesuatu yang telah diniatkan di masa yang akan datang, maka hendaklah dia mengembalikan hal tersebut kepada kehendak Allah SWT Yang Maha mengetahui hal ghaib, yang mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, serta apa yang tidak terjadi dan seandainya terjadi bagaimana akibatnya. Firman Allah SWT: (Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa) Dikatakan bahwa, makna yang dimaksud adalah jika kamu lupa mengucapkan pengecualian, maka sebutkanlah pengecualian itu saat kamu mengingatnya. Pendapat ini dikatakan oleh Abu Al-’Aliyah Ikrimah berkata tentang firmanNya: (Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa) yaitu jika kamu marah. Ini adalah penafsiran yang lazim Diriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: (Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi (23) kecuali (dengan menyebut), 'Insya Allah'” Dan ingatlah kepada Tuhan­mu jika kamu lupa) yaitu mengatakan “Insya Allah” Makna ayat mengandung makna lain, yaitu bahwa melalui ayat ini Allah membimbing orang yang lupa atas sesuatu dalam pembicaraannya, agar dia mengingat Allah SWT karena sesungguh­nya lupa itu bersumber dari setan. Sebagaimana yang dikatakan pemuda yang menemani nabi Musa, (dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan) (Surah Al-Kahfi: 63) dan mengingat Allah SWT itu dapat mengusir setan. Jika setan pergi, maka lenyaplah lupa itu. Mengingat Allah adalah penyebab dari suatu ingatan. Oleh karena itu Allah berfirman: (Dan ingatlah Tuhanmu jika kamu lupa) Firman Allah: (dan katakanlah, "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini”) yaitu, apabila kamu ditanya tentang sesuatu yang tidak kamu ketahui, maka mintalah kepada Allah tentang jawabannya, dan mohonlah kepadaNya agar Dia memberimu taufik ke jalan yang benar dan diberi petunjuk jawabannya. DIkatakan penafsiran yang lain dari ini. Hanya Allah yang lebih mengetahui

Tafsir As-Sa'di
Buka

23. Larangan ini adalah sebagaimana larangan lainnya, sekalipun penyebabnya khusus dan ditujukan kepada Rasulullah, akan tetapi arah pembicaraannya umum, untuk semua kalangan mukallaf. Allah melarang seorang hamba mengatakan dalam urusan yang akan datang, “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu,” tanpa menggandengkannya dengan kehendak Allah. Demikian itu, karena sikap tersebut memuat sebuah larangan. Yaitu berbicara tentang perkara ghaib yang akan datang, yang mana dia tidak mengetahui apakah dia akan mengerjakannya atau tidak? Dan apakah akan terjadi atau tidak? Pada ungkapan itu (tanpa mengaitkan dengan kehendak Allah) mengandung pengertian mengembalikan sebuah perbuatan kepada kehendak seorang hamba belaka, dan sikap demikian ini dilarang lagi diharamkan. Sebab, semua kehendak adalah milik Allah. "Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (At-Takwir: 29) Dan karena pada penyertaan kehendak Allah memuat unsur memuluskan dan memudahkan urusan, teraihnya berkah serta unsur meminta bantuan dari hamba kepada Rabbnya.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

23-24. Jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu yang kamu sangka: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali dengan menyebut: "Insya Allah". Ingatlah kepada Tuhanmu dengan tasbih, takbir dan istighfar jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini". Ibnu Abbas berkata: Nabi pernah bersumpah, kemudian hingga berlalu 40 malam. Sehingga turunlah ayat ini.

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

23-24. Dan janganlah mengatakan sesuatu yang engkau berniat untuk melakukannya, ”aku akan melakukan sesuatu itu besok.” kecuali engkau menggantungkan ucapanmu dengan kehendak Allah. Yaitu engkau mengatakan, ”insya Allah” dan ingatlah kepada tuhanmu ketika engkau lupa mengucapkan ”insya Allah” dan tiap kali engkau lupa, maka berdzikirlah(mengingat dan menyebut Allah) sebab mengingat Allah akan menghilangkan lupa. Dan katakanlah “semoga tuhanku akan menunjukan kepadaku jalan paling dekat yang mengantarkan menuju hidayah dan petunjuk yang lurus.

Tafsir Al-Madinah
Buka

23-25. Allah menyampaikan kepada rasul-Nya agar dia menyampaikan kepada umatnya larangan tegas tentang urusan seseorang di masa depan dengan berkata ‘aku akan melakukan ini’ tanpa menyertainya dengan ucapan ‘In Sya Allah’, sebab segala sesuatu hanya terjadi dengan kehendak Allah. Dan ingatlah Tuhanmu ketika kamu lupa mengucapkan ‘In Sya Allah’. Dan setiap kali kamu lupa sesuatu maka ingatlah Allah dengan berdoa dan tunduk kepada-Nya. dan katakanlah: “Semoga Allah memberiku taufik kepada sesuatu yang lebih baik bagi agama dan duniaku.” Dan para pemuda ashabul kahfi tersebut tidur di dalam gua selama 309 tahun Qamariyah atau 300 tahun Syamsiyah.

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

23. Dan jangan sekali-kali engkau -wahai Rasul- mengatakan pada sesuatu yang ingin engkau kerjakan besok harinya dengan ucapan, "Aku pasti melakukannya besok hari," karena engkau belum tahu apakah benar-benar akan melakukannya atau engkau akan terhalangi untuk melakukannya? Tentunya perintah ini ditujukan juga kepada setiap muslim.

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

23. (Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi) Ketika orang-orang Yahudi bertanya kepada Rasulullah tentang kisah ashabul kahfi, Rasulullah berkata kepada mereka: “aku akan memberitahu kalian besok” tanpa mengatakan InsyaAllah. Kemudian wahyu tidak turun kepadanya sehingga itu membuatnya merasa susah. Maka Allah menurunkan ayat ini. Yakni jika kamu mengatakan ‘aku akan melakukan hal itu besok’ maka sertailah dengan perkataan InsyaAllah.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

{Jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu,“Aku pasti melakukan hal itu besok”

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Surat Al-Kahfi ayat 23: Larangan ini meskipun ditujukan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, namun berlaku umum kepada umat Beliau, sehingga seseorang dilarang mengatakan terhadap perkara-perkara yang akan datang, “Saya akan melakukannya besok.” Tanpa menyertakan kalimat “Insya Allah” (jika Allah menghendaki). Yang demikian, karena di dalamnya sama saja berkata tentang hal yang masih gaib. Menyebutkan “Insya Allah” ada beberapa faedah, di antaranya berharap kemudahan dari Allah dan keberkahan-Nya, serta menunjukkan permintaan dari seorang hamba kepada Tuhannya.

Tafsir An-Nafahat
Buka

QS. An-Nur (24): Ayat 2 Rujukan #5
ٱلزَّانِيَةُ وَٱلزَّانِى فَٱجْلِدُوا۟ كُلَّ وَٰحِدٍ مِّنْهُمَا مِا۟ئَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِى دِينِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٌ مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ
az-zāniyatu waz-zānī fajlidụ kulla wāḥidim min-humā mi`ata jaldatiw wa lā ta`khużkum bihimā ra`fatun fī dīnillāhi ing kuntum tu`minụna billāhi wal-yaumil-ākhir, walyasy-had ‘ażābahumā ṭā`ifatum minal-mu`minīn
"Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman."

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Surah ini mengandung ketentuan hukum yang pasti, salah satunya hukum perzinaan. Kepada pezina perempuan yang belum pernah menikah dan demikian pula pezina laki-laki yang belum pernah menikah, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali jika perziaan keduanya terbukti sesuai dengan syarat-syaratnya, dan janganlah rasa belas kasih-an kepada keduanya mencegah kamu untuk menjalankan agama dan hukum Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Salah satu konsekuensi iman adalah melaksanakan hukum Allah. Dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman, sedikitnya tiga atau empat orang, agar hukuman itu menjadi pelajaran bagi pihak-pihak yang melihat dan mendengarnya. 3. Usai menjelaskan hukuman atas pezina, ayat ini mengingatkan keharusan menghindari pezina, khususnya untuk dijadikan pasangan hidup. Pezina laki-laki tidak boleh menikah kecuali dengan pezina perempuan atau dengan perempuan musyrik; dan demikian juga sebaliknya, pezina perempuan tidak boleh menikah kecuali dengan pezina laki-laki atau dengan laki-laki musyrik; dan yang demikian itu, yaitu menikah dengan pezina, diharamkan bagi orang-orang mukmin.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 1-2 Allah SWT berfirman bahwa ini adalah (suatu surah yang Kami turunkan) mengandung pengertian yang mengisyaratkan perhatian kepada surah ini, tetapi tidak mengesampingkan surah lainnya “dan Kami wajibkan kepadanya” Mujahid dan Qatadah berkata,”Kami telah menjelaskan halal, haram, perintah, larangan, dan batasan-batasan hukum. Imam Bukhari berkata bahwa orang yang membacanya (Wa Faradnaha) yaitu,”Kami wajibkan hukum-hukum kepada kalian, dan kepada orang-orang yang sesudah kalian” (dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas) yaitu ayat-ayat yang jelas dan gamblang (agar kalian selalu mengingatnya) Kemudian Allah SWT berfirman: (Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka pukullah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali) Yakni ayat yang mulia ini mengandung hukum had bagi orang yang berzina. Para ulama memiliki pembahasan yang rinci dan segala perbedaan pendapat. Akan tetapi pezina itu adakalanya seorang yang perawan, yaitu belum pernah menikah atau muhshan yaitu orang yang sudah melakukan hubungan badan melalui pernikahan yang sah dan dia adalah seorang yang merdeka, baligh, dan berakal sehat. Adapun orang yang belum pernah menikah, maka hukuman hadnya seratus kali deraan, sebagaimana di ayat ini. Dan ditambahkan dengan dibuang selama satu tahun di tempat yang jauh dari negerinya, menurut pendapat mayoritas ulama, berbeda dengan pendapat Imam Abu Hanifah, bahwa hukuman pengasingan ini diserahkan kepada imam. yaitu, jika imam berkehendak maka bisa mengasingkannya dan jika berkehendak dia bisa tidak mengasingkannya. Firman Allah SWT: (dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kalian untuk (menjalankan) agama Allah) yaitu menjalankan hukum Allah. yaitu, janganlah mengasihi keduanya dalam menjalankan syariat Allah. Hal yang dilarang bukanlah belas kasihan saat menimpa­kan hukuman had. melainkan belas kasihan yang mendorong hakim untuk membatalkan hukuman had. Maka hal itu tidak diperbolehkan. Mujahid berkata tentang firmanNya: (dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kalian untuk (menjalankan) agama Allah2) yaitu untuk menjalankan hukuman had ketika kasusnya telah dilaporkan kepada penguasa, maka hukuman harus dijalankan dan tidak boleh diabaikan. Dikatakan bahwa makna (dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kalian untuk (menjalankan) agama Allah) yaitu, janganlah menegakkan hukuman had sebagaimana melakukan pukulan yang keras untuk mencegah perbuatan dosa. Dan maknanya bukanlah melakukan pukulan yang membuat yang dihukum terluka berat. Amir Asy-Sya'bi berkata tentang firmanNya: (dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kalian untuk (menjalankan) agama Allah) yaitu belas kasihan untuk melakukan pukulan yang keras. ‘Atha’ berkata bahwa pukulan itu adalah pukulan yang tidak melukai Firman Allah: (jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhirat) yaitu lakukan dan tegakkanlah hukuman-hukuman had terhadap orang-orang yang berzina, dan pukullah mereka dengan keras, tetapi tidak dengan pukulan yang membuat mereka lumpuh. yaitu agar dia dan orang lain yang hendak melakukan perbuatan seperti itu jera. Firman Allah: (dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman) Hal ini merupakan pembalasan bagi pezina jika keduanya didera di hadapan orang banyak. Hal itu lebih keras pengaruhnya terhadap keduanya agar keduanya benar-benar jera. Sesungguhnya hal itu adalah kecaman dan cemoohan terhadap orang yang dihukum, jika banyak orang menyaksikan hukuman­nya. Hasan Al-Bashri berkata tentang firmanNya: ()dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman) yaitu secara terang-terangan. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: (dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman) Kata “Ath-Thaifah” adalah satu orang laki-laki dan lebih dari itu.

Tafsir As-Sa'di
Buka

2. ini adalah mengenai pelaku zina lelaki dan perempuan yang lajang. Yaitu mereka berdua dipukul sebanyak seratus kali pukulan. Adapun orang yang pernah melewati masa pernikahan (lelaki atau wanita), menurut petunjuk kandungan Sunnah yang shahih juga popular, hukumannya yaitu rajam. Allah melarang kita terpengaruh dalam rasa iba kepada mereka berdua di dalam menegakkan agama Allah, yang akan menghambat kita menjalankan hukuman pidana atas mereka berdua, baik rasa kasihan alami atau karena ada jalinan kekerabatan, persahabatan atau hubungan lainnya (dengan tertuduh). Hanya keimananlah yang dapat melenyapkan perasaan yang menghalangi pelaksanaan hukum Allah itu. Rasa sayang kepadanya yang hakiki itu adalah dengan menegakkan hukum kepadanya. Kita ini, kendatipun merasa kasihan kepadanya lantaran terjadinya takdir semacam itu kepadanya, namun kita tidak boleh mengungkapkan belas kasih kepadanya dari sisi ini. Allah memerintahkan supaya proses penegakan hukum dua orang pezina itu dihadiri oleh “sekumpulan orang-orang,” Mukmin. Supaya diketahui oleh khalayak dan terpenuhilah sasaran untuk menghinakan (pelaku) dan menciptakan suasana kehati-hatian (dari tindakan itu), dan hendaklah mereka benar-benar menyaksikannya secara nyata. Sesungguhnya, menyaksikan pelaksanaan hukum syariat secara langsung termasuk faktor yang berpotensi menguatkan ilmu dan meresapkan pemahaman, serta akan mendekatkan kepada kebenaran, tidak ditambah-tambah ataupun di kurangi. Wallahu’alam.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

2. Perempuan pezina dan laki-laki pezina yang masih perawan atau perjaka yaitu belum menikah. Maka pukul atau deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali atas kemaksiatan mereka. Sudah ditetapkan dalam sunnah bahwa ada tambahan pukulan/jilidan secara umum. Adapun hukuman untuk pezina muhson yaitu yang sudah menikah dan merdeka, maka hukuman bagi mereka adalah rajam menurut sunnah yang sahih dan mutawatir. Jangan berbelas kasihan kepada keduanya sekalipun sedikit dalam menegakkan aturan Allah, jika kamu memang beriman kepada Allah, hari kebangkitan dan hari akhirat hari pembalasan. Hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. Paling sedikit adalah tiga orang, sebab jika disaksikan orang banyak maka akan bisa menjadi peringatan, pelajaran dan pembelajaran. Inilah aturan bagi zina.

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

Wanita pezina dan lelaki pezina yang belum pernah menjalani pernikahan sebelumnya, hukuman masing-masing mereka adalah seratus cambukan, dan bersama itu terdapat hokum tetap dalam as-Sunnah, yaitu pengasingan selama setahun. Dan janganlah rasa iba kalian terhadap mereka berdua mendorong kalian meninggalkan hukman pidana tersebut atau meringankannya, bila kalian beriman kepada Allah dan Hari Akhir, serta menjalankan hokum-hukum islam. Dan hendaknya menyaksikan pelaksanaan hukuman itu sejumlah orang dari kalangan kaum Mukminin, sebagai bentuk perlakuan buruk (bagi pelaku), pencegahan, nasihat dan pelajaran (bagi orang lain).

Tafsir Al-Madinah
Buka

2. Pezina laki-laki dan pezina perempuan yang belum menikah, cambuklah masing-masing seratus cambukan dan asingkanlah dia selama satu tahun -sebagaimana disebutkan dalam sunnah nabawiyah- sebagai balasan atas kejahatan mereka itu. dan janganlah sekali-kali rasa kasihan terhadap keduanya membuat kalian membatalkan hukum Allah ini jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan hendaklah orang beriman -satu orang atau lebih- menyaksikan pelaksanaan hukuman ini agar menjadi pelajaran baginya. Dari Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid, berkata: Ada dua orang yang mengajukan perkara mereka kepada Rasulullah. Salah seorang dari mereka berkata: “Putuskanlah perkara kami sesuai dengan kitabullah”, dan seorang lagi berkata -dan orang ini lebih pandai-: “Benar wahai Rasulullah, putuskanlah perkara kami sesuai kitabullah, dan izinkanlah aku mengungkapkan perkara ini”. Rasulullah menjawab: “ungkapkanlah”. Maka dia berkata: “Anakku adalah ‘asif’ dari orang ini -Imam Malik berkata, yang dimaksud dengan ‘asif’ adalah kuli-, namun anakku ini berzina dengan istrinya. Orang-orang memberitahukanku bahwa hukuman bagi anakku adalah hukuman rajam, maka aku menebusnya dengan 200 ekor kambing dan seorang budak perempuanku. Kemudian aku bertanya kepada orang-orang yang berilmu, dan mereka memberitahuku bahwa hukuman bagi anakku adalah hukum cambuk seratus kali dan diasingkan selama satu tahun, sedangkan hukum rajam hanya bagi istri orang ini.” Rasulullah menjawab: “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh aku akan memutuskan perkara kalian sesuai dengan kitabullah; kambing dan budak perempuanmu harus dikembalikan kepadamu, kemudian anakmu harus dicambuk seratus cambukan dan diasingkan selama setahun.” Lalu Rasulullah memerintahkan Anis al-Aslami mendatangi istri si orang kedua tersebut dan bertanya tentang perkara perzinaannya, jika dia mengakui maka dia harus dihukum rajam. Wanita itu mengakui perbuatannya, maka dia mendapat hukuman rajam. (Shahih al-Bukhari 11/532, kitab sumpah dan nazar, bab bagaimana Rasulullah bersumpah, no. 6633, 6634. Dan shahih Muslim 3/1324-1325, no. 1697, 1698).

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

2. Pezina wanita yang masih gadis dan pezina laki-laki yang masih bujang, maka cambuklah setiap mereka seratus kali, dan janganlah kalian merasa belas kasihan kepada keduanya yang membuat kalian enggan menjalankan hukuman had atau meringankan had tersebut kepada keduanya bila kalian memang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Dan hendaknya pelaksanaan hukuman had keduanya dihadiri oleh sekumpulan orang-orang mukmin agar mereka mengenal keduanya, serta untuk memberikan efek jera bagi keduanya dan selain keduanya (yang ingin melakukan zina).

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

2. (Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya) Zina adalah hubungan badan antara laki-laki dan perempuan tanpa hubungan pernikahan antara keduanya. Makna () adalah perempuan yang rela untuk diajak berbuat zina, tanpa ada keengganan darinya. Makna () adalah pukulan dengan menggunakan cambuk atau tongkat. Dikatakan () jika ia dipukul pada kulitnya. ( seratus kali dera) Ini merupakan hukum had bagi pezina laki-laki lajang atau perempuan gadis, dan dalam hadits disebutkan pula hukuman tambahan berupa pengasingan selama satu tahun. Adapun bagi pezina merdeka yang telah menikah hukumannya adalah rajam, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih dan mutawattir. Ayat ini adalah ayat yang menghapus hukum ayat yang menyebutkan hukuman kurungan dan siksaan bagi pezina, yaitu ayat 15 dan 16 pada surat an-Nisa’. Ayat ini ditujukan bagi para pemimpin atau yang mendapat wewenang untuk memutuskan perkara. Namun pendapat lain mengatakan bahwa ayat ini ditujukan bagi seluruh kaum muslimin namun mereka terwakili oleh para pemimpin. (dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah) Makna () adalah belas kasihan. Dan pendapat lain mengatakan maknanya adalah rasa kasihan yang paling dalam. (jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat) Yakni jika kalian percaya kepada keesaan Allah dan hari kebangkitan yang terdapat pembalasan amal perbuatan di sana, maka janganlah kalian tidak menjalankan hukum had. (dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman) Yakni agar sebagian kaum muslimin hadir menyaksikan untuk menambah rasa tersiksa bagi kedua pelaku zina, dan agar keburukan dan aib mereka berdua tersebar, serta supaya perbuatan ini dijauhi karena keburukan pelakunya akan tersebar di kalangan orang banyak.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

{ } "dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah" Allah melarang dari bermudah-mudahan dan lalai dalam menjalankan hukuman terhadap dosa yang dilakukan pada umumnya, dan secara khusus hukuman dosa zina secara khusus ditegaskan; karena dosa ini dibangun dari keinginan yang tidak terkendali dan syahwat yang jahat, sehingga syaithon mengiasi hati orang-orang yang kerap cenderung terhadap dosa ini, sampai-sampai begitu banyak manusia yang terjerumus dan memberikan kemudahan untuk berlangsungnya dosa ini, bahkan mereka mengira bahwa ini adalah rahmat dan kemudahan, namun sebenarnya itu adalah kehinaan dan kelemahan iman, ada upaya dalam membantu terjadinya dosa dan permusuhan, dan meninggalkan perintah melarang kepada perzinahan dan kemungkaran.

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

{Pezina perempuan dan pezina laki-laki, cambuklah} maka pukullan dengan cambuk {masing-masing dari keduanya seratus kali cambukan dan janganlah rasa belas kasihan} belas kasihan dan lemah lembut {kepada keduanya mencegah kalian untuk (melaksanakan) agama Allah} hukum Allah {jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Hendaklah disaksikan} hendaklah dihadiri {hukuman untuk keduanya itu} hukuman cambuk untuk kedua pezina itu {oleh sekelompok} sekelompok {dari golongan orang-orang mukmin

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Surat An-Nur ayat 2: Hukum ini berlaku pada pezina laki-laki dan perempuan yang belum menikah, yakni bahwa keduanya didera seratus kali. Sedangkan yang sudah menikah, maka As Sunnah menerangkan, bahwa hadnya adalah dengan dirajam. Yakni memukul kulitnya (mencambuk). Ditambah dengan diasingkan setahun berdasarkan As Sunnah. Adapun budak setengah dari hukuman itu. Atau hubungan kerabat dan persahabatan.

Tafsir An-Nafahat
Buka

QS. As-Saff (61): Ayat 3 Rujukan #6
كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفْعَلُونَ
kabura maqtan ‘indallāhi an taqụlụ mā lā taf’alụn
"Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan."

Eksplorasi Komparatif 14 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Perbuatan kamu, wahai orang-orang yang beriman, yang tidak melakukan apa yang sudah dikatakan atau disampaikan kepada orang lain sangatlah dibenci di sisi Allah, jika kamu mengikuti kebiasaan orang-orang munafik, mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan, bermuka dua, tidak ada kesatuan kata dan perbuatan dan tidak ada integritas. 4. Ayat ini menyatakan bahwa Allah suka kepada orang-orang yang berjihad dalam barisan yang teratur. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya untuk membela diri dan membela kehormatan islam dan kaum muslim dalam barisan yang teratur, kuat, militan, dan terorganisir dengan baik; mereka seakan-akan dalam membangun kekuatan umat seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh, saling menguatkan komponen umat muslim yang satu terhadap komponen umat muslim lainnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 1-4 Telah disebutkan pembahasannya dalam firman Allah dalam firman Allah SWT: (Bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (l)) yang tidak hanya sekali sehingga tidak perlu lagi diulangi. Adapun firman Allah SWT: (Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tiada kamu kerjakan (2)) pengingkaran terhadap orang yang menjanjikan suatu janji atau mengatakan sesuatu, lalu dia tidak memenuhinya. Oleh karena itu maka ada sebagian ulama salaf yang berpendapat atas dalil ayat ini bahwa diwajibkan bagi seseorang menunaikan apa yang dia janjikan secara mutlak baik yang dijanjikan itu berkaitan dengan kewajiban atau tidak. Mereka juga berhujjah dengan hadits yang disebutkan di dalam hadits shahih Bukhari Muslim, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:”Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu apabila berjanji dia mengingkari, apabila berbicara, dia berdusta dan apabila dipercaya dia berkhianat” Diriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: (Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tiada kamu kerjakan (2)) dia berkata,”Dahulu sebelum jihad diwajibkan, ada segolongan orang-orang mukmin yang berkata bahwa kami sangat menginginkan sekiranya Allah SWT menunjukkan kepada kami amal perbuatan yang paling disukai di sisiNya, maka kami akan mengerjakannya. Maka Allah SWT memberitahukan kepada NabiNya, bahwa amal perbuatan yang paling disukai adalah beriman kepadaNya tanpa keraguan, dan berjihad melawan orang-orang yang durhaka kepadaNya, yaitu orang-orang yang menentang keimanan dan tidak mau mengakuinya. Ketika diturunkan perintah berjihad, sebagian dari orang-orang mukmin tidak senang dengan itu dan terasa berat oleh mereka. Maka Allah SWT berfirman: (Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tiada kamu kerjakan? (2)) Pendapat inilah yang dipilih Ibnu Jarir. Dalam firman Allah SWT: (Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh) Ini merupakan pemberitahuan Allah SWT kepada orang-orang yang beriman. dia berkata tentang firmanNya: (seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh) yaitu sebagiannya menempel ketat dengan sebagian yang lain dalam barisannya dalam peperangan.

Tafsir As-Sa'di
Buka

2-3. “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat,” maksudnya, mengapa kalian mengatakan kebaikan dan mendorongnya, dan boleh jadi kalian memuji-muji kebaikan itu namun tidak kalian lakukan? Mengapa kalian melarang keburukan, boleh jadi kalian sucikan diri kalian dari keburukan tersebut namun kalian lakukan bahkan menjadi sifat kalian? Lantas apakah kondisi tercela seperti ini pantas bagi orang-orang yang beriman? Bukankah amat besar murka Allah pada orang yang mengatakan sesuatu namun tidak dikerjakan? Karena itu, orang yang memerintahkan berbuat baik seharusnya menjadi orang pertama yang melakukannya. Dan orang yang melarang keburukan seharusnya menjadi orang yang paling jauh darinya. Allah berfirman, “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” -Al-baqarah:44 Nabi syuaib berkata kepada kaumnya, “Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.” -Hud: 88-

Tafsir Al-Wajiz
Buka

3. Kemudian Allah mencela orang-orang yang berkata-kata tersebut. Allah membenci mereka (Al-Maqtu adalah kebencian yang sangat besar) dengan kebencian yang amat besar. {Kabura} artinya agung dan besar. {Maqtan} adalah kebencian yang sangat besar di sisi Allah bagi kalian akibat ucapan kalian yang tidak kalian laksanakan.

Tafsir Al-Mishbah
Buka

Tafsir Al-Muyassar
Buka

3. Amat besar murka Allah bila kalian berkata dengan lisan kalian apa yang tidak kalian lakukan.

Tafsir Al-Madinah
Buka

Tafsir Al-Mukhtashar
Buka

3. Sungguh besar kebencian dan kemurkaan di sisi Allah bila kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan. Tidak pantas bagi seorang yang beriman kecuali berbuat jujur terhadap Allah, amalnya sesuai ucapannya

Tafsir Zubdatut Tafsir
Buka

3. (Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan) Yakni Allah sangat membenci perbuatan itu. Pendapat lain mengatakan bahwa ayat ini diturunkan bagi kaum yang mendatangi Rasulullah kemudian salah seorang mereka berkata: “Aku telah ikut berperang dengan pedangku, dan aku telah memukul ini dan itu.” padahal mereka tidak melakukan itu semua.

Tafsir Li Yaddabbaru
Buka

Tafsir Ash-Shaghir
Buka

Sangat besarlah kemurkaan} sangat besar kemurkaan {di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan

Tafsir Aisarut Tafsir
Buka

Tafsir Hidayatul Mursalin
Buka

Tafsir An-Nafahat
Buka

Surat As-Shaff ayat 3: 2-3. Allah memperingatkan atas ibadah seorang hamba yang beriman untuk meninggalkan persetujuan atas amalan yang hanya berupa perkataan, Allah berkata : Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kenapa kalian katakan dari kebaikan atas apa yang tidak kalian kerjakan ? Sungguh besar perbuatan jahat ini di sisi Allah, yaitu kalian yang mengatakan, tapi kalian tidak mengamalkan. Karena sebuah amanah yang diberikan kepada manusia yang lain adalah petunjuk bagi kejujuran dan kemulian atas tabiat manusia dan baiknya kebiasaan yang mengatakan. Diriwayatkan dari hadits yang dikeluarkan oleh Ahmad dan Tirmidzi dari Abdullah bin Sallam : Bahwasanya para lelaki dari para sahabat berkata : Seandainya kami mengetahui sebuah amalan yang utama, yang dicintai Allah ketika seorang hamba mengamalkannya, sungguh kami pasti mengamalkannya. Kemudian Allah menurunkan : Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? {Ash Shaf 1-2}. Berkata Abdullah bin Sallam : Maka Rasulullah ﷺ membacakan ayat tersebut kepada kami. Ini adalah hadits yang disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya, kemudian Ibnu Katsir berkata : Sesungguhnya ucapan yang tanpa pembenaran dengan amal, menjadi penyebab celaan dan sesuatu yang tidak disenangi, ia adalah sebesar-besar sesuatu yang dibenci dan membuat kemurkaan.